Hampir 9 tahun lalu, tepatnya tanggal 11 April 2017, Saat masih bertugas di KPK, Novel Baswedan diserang dengan air keras oleh 2 orang aparat (berdasarkan proses hukum yang mengada-ada), sepulang shalat subuh dari masjid.
Akibatnya, Novel harus dirawat intensif di Singapura sampai 8 bulan lamanya melalui beberapa kali operasi. Saya masih ingat sekali kejadian itu. Pagi itu, istri Novel langsung menelpon saya dan saya langsung menuju ke rumah sakit Mitra Keluarga, Kelapa Gading. Saya juga yang kemudian bolak-balik menemani Novel selama berobat di Singapura.
Pada malam ke-5 di rumah sakit Singapura, setelah selesai menjalani operasi mata dan perawatan luka bakar pada wajah dan tubuhnya, Novel mengeluh kepada saya, bahwa dia merasa sangat lelah, lemas dan sulit bernafas. Mendengar keluhan itu, saya curiga ada masalah pada pernafasannya dan saya langsung menghubungi dokter dan perawat, menyampaikan keluhan tersebut dan meminta agar dilakukan pemeriksaan pada saluran pernafasan.
Benar saja, setelah dilakukan pemeriksaan menggunakan bronkoskop (selang tipis fleksibel yang dilengkapi lampu dan kamera di ujungnya untuk melihat bagian dalam saluran napas, tenggorokan, dan paru-paru), ditemukan banyak luka bakar dan residu air keras pada saluran nafas dan tenggorokan, sehingga langsung dilakukan tindakan untuk pembersihan. Saya melihat sendiri proses pembersihan itu dan ikut merasakan sakit yang dirasakan oleh Novel.
Pada saat inilah saya memahami, serangan air keras pada wajah itu tujuannya bukan hanya untuk merusak wajah dan mata, tetapi untuk MEMBUNUH. Alhamdulillah, setelah tindakan tersebut, Novel merasa baikan dan kembali fokus melakukan pengobatan mata, yang mana pada saat itu, mata kiri mengalami kerusakan 95% dan mata kanan 60%. Singkat cerita, alhamdulillah mata kiri dan kanan Novel mengalami perbaikan dan Novel bisa melihat kembali. Namun takdir Allah Novel kehilangan penglihatan pada mata kirinya setelah 3 tahun dan saat ini, dia bertumpu penglihatan dengan mata kanannya.
***
Jumat pagi lalu, saat di perjalanan ke luar kota, saya sangat terkejut dan marah, saat mendapatkan informasi bahwa Andrie Yunus juga mengalami serangan serupa oleh 2 orang berboncengan motor pada Kamis malam (12/03) sekitar pukul 23.30 WIB saat akan pulang.
Memori saya langsung kembali pada kejadian 9 tahun lalu. Respon pertama saya kepada teman2 yang mendampingi adalah agar Andrie segera mendapatkan perawatan yang tepat dan cepat. Nyawa Andrie diselamatkan. Luka bakar pada mata, wajah dan tubuhnya harus segera ditangani oleh dokter yang benar-benar ahli. Begitupun, penting untuk memastikan tidak ada kerusakan pada saluran pernafasannya.
Selain itu, hal yang tak kalah penting, upaya pembunuhan (saya tidak memakai istilah penyerangan) kepada Andrie harus diungkap dengan tuntas, baik para pelaku lapangan dan dalang yang ada di belakangnya.
Terlebih, proses penyerangan kepada Andrie terjadi di tempat umum, dimana banyak saksi mata dan rekaman kamera CCTV di lokasi kejadian. Seharusnya hal ini bukan hal yang sulit untuk diungkap, jika ada kemauan dan keseriusan dari aparat penegak hukum.Frasa kata “upaya pembunuhan” ini, pertama kali disampaikan oleh Novel Baswedan pada saat konferensi pers penyerangan Andrie Yunus di kantor YLBHI, Jakarta, pada hari Jumat lalu. Novel menyampaikan hal tersebut karena dia sendiri pernah mengalami hal serupa.
Saya mengenal Andrie sebagai anak muda pemberani dan kritis dengan segala upaya aktivismenya bersama kawan-kawan KontraS untuk membuat negara ini menjadi lebih baik dan jauh dari tindakan kekerasan dan penyalahgunaan kekuasaan.
Saya mengajak kita semua untuk mendoakan semoga Allah SWT, Sang Maha Kuasa dan Maha Penyembuh memberikan kesembuhan kepada Andrie Yunus agar dapat terus melanjutkan perjuangannya membuat negara ini menjadi lebih baik.
Novel dan Andrie adalah dua sosok pemberani yang sangat mencintai kebenaran dan negaranya, telah dicoba untuk dibunuh secara sistematis dan terencana dengan serangan air keras. Oleh karena itu, selain mendoakan kesembuhan Andrie, kita semua harus mengawal proses hukum kepada semua pelaku yang terlibat dalam upaya pembunuhan ini.
Kita semua bersama Andrie Yunus!
Salam,
Aulia Postiera
Anggota IM57+ Institute




